Pernahkah pada suatu hari kamu mencoba mengakui kesalahanmu sendiri terhadap kawanmu, istrimu, bahkan kepada anakmu?
Kamu terkadang jujur untuk menjawab,"Belum,aku belum mencobanya". Namun jangan sekali-kali menjawab,"Aku selamanya tidak pernah berlaku salah pada orang lain." Dengan begitu telah menampakkan dirimu sebagai pribadi yang angkuh dan penuh tipu daya.
Sekarang akan kuhadirkan kisah Ibn az-Zubair dengan bibinya, Aisyah r.a.
Ia (Zubaidah) telah melakukan kesalahan kepada bibinya, berbicara dengan kata-kata keras, sebagian kata-katanya seperti batu, atau lebih keras dari itu, kemudian ia menyesal dan mengakui kesalahnya, memperlembut ucapannya dan berlaku rendah hati kepada bibinya, ia menangis di depan Aisyah r.a. hingga Aisyah merasa ridha dan memaafkannya.
perhatikanlah kisah mengagumkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya yang diriwayatkan dari 'Auf ibn Malik ibn Tufhail, bahwa Aisyah menceritakan bahwa Ibnu Zubair berkata tentang barang jualan tau bingkisan yang diberikan Aisyah kepadanya, " Aisyah harus menghentikan (tidak mengirim lagi)barang ini, atau aku yang akan membuangnya".
Aisyah berkata, "Apa betul ia mengatakan itu?"
Mereka menjawab, "Betul".
Aisyah berkata, "Aku bernadzar untuk tidak sudi berbicara dengan Ibnu Zubair selama-lamanya". ketika aksi mogok bicara Aisyah berlangsung cukup lama, Ibnu Zubair meminta bantuan kepadanya.
Aisyah berkata, "Demi Allah, Selamanya aku tidak akan membantunya".
Ketika kejadian yang dialami Ibnu Zubair berlangsung lama, beliau memusyawatahkan hal itu dengan al-Miswar ibn Makhramah dan Abdurrahman ibn al-Aswad ibn Yaghuts -keduanya tergolong dari Bani Zahrah- Ia berkata, "Aku sarankan kepada kalian ketika memasuki rumah Aisyah untuk mengatakan bahwa tidak halal baginya bernadzar untuk memutuskan tali silaturrahmi denganku".
Kemudian al-Miswar dan Abdurrahman mencoba menghadap, meminta izin masuk ke rumah Aisyah dan mengucapkan, "Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, apakah kami boleh masuk?"
Aisyah menjawab, "Silahkan".
Mereka bertanya, "Kami semuanya boleh masuk?"
Ia menjawab, "Ya. Masuklah". Aisyah tidak tahu bahwa Ibnu Zubair bersama mereka. Ketika mereka masuk, Ibnu Zubair masuk ke dalam tabir kamar Aisyah, kemudian memeluknya mencoba meminta maaf dan menangis. Miswar dan Abdurrahman mencoba mengutarakan syair kepada Aisyah selain apa yang telah di ucapkannya kepada Zubair. Mereka berdua berkata, "Kamu tahu bahwa Nabi melarang untuk tidak berbicara, Sesungguhnya tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari".
Ketika saran dan peringatan itu berkali-kali disampaikan kepada Aisyah, beliaupun sadar dan menangis sambil berkata, "Aku telah bernadzar dan nadzar itu suatu yang besar". Kedua orang sahabat Ibnu Zubair pun kembali mengingatkannya, hingga akhirnya Aisyah mau berbicara dengan Zubair. Untuk menebus nadzarnya tersebut, ia memerdekakan empat puluh hamba sahaya. Setelah ingat dengan nadzarnya, Aisyah menangis hingga air mata membasahi kerudungnya.
Mereka adalah orang yang mulia, mulia karena keridhaannya, mulia karena menaklukan amarahnya, mulia saat mereka berdamai, mulia saat mereka berselisih, mulia dalam ucapannya, mulia karena perbuatannya, mulia dalam kesalahannya, karena mereka tidak terus-terusan berada dalam kesalahan, bahkan mengakui kesalahan itu. Semoga keselamatan dari Allah selalu menyertai mereka selama malam gelap-gulita, selam matahari pagi masih bersinar, selama bulan melintas di langit, dan selama burung berkicau merdu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar