Apa yang akan Anda lakukan ketika berjumpa seseorang dengan sesungging senyum manis di lekuk bibirnya? Bandingkan reaksi Anda apabila orang yang dijumpai itu mengerutkan bibir dengan tatapan mata tajam. Tak ada ekspresi senyum sedikit pun di wajahnya. Hampir pasti akan muncul respons ber- beda untuk dua situasi tersebut.
Ekspresi di wajah seseorang berpengaruh langsung terhadap pola komunikasi dan bentuk interaksi sosial yang terjadi, termasuk ekspresi balasan yang ditampilkan kemudian.
Di gerbang tol Jatiwarna, Bekasi, misalnya, bagai oase saat memasuki antrean di salah satu gerbang tol. Saya juluki gerbang tol itu paling cerdas dari sekian banyak gerbang tol yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Gerbang pada ruas Jatiwarna ini adalah loket jalan keluar menuju salah satu taman wisata di timur Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski antrean kendaraan begitu panjang, petugas selalu proaktif mengambil kartu, menerima pembayaran, dan siap dengan uang kembali.
Dari segi waktu dan gerak (time and motion) terkesan efektif, efisien, dan ptimal. Dalam hal jasa layanan, sapaan ramah dan senyum hangat melengkapi kecerdasan di gerbang itu. Senyum yang menghiasi wajah petugas plus ucapan “selamat jalan”, tentu menyejukkan hati, bukan?
Komunikasi Nonverbal
Senyum merupakan salah satu isyarat nonverbal atau gesture manusia dalam berkomunikasi. Penelitian yang dilakukan Leonard, Voeller, dan Kaldau(1991) menunjukkan di dalam setiap senyuman terjadi peningkatan pesan positif yang komunikatif.
Indonesia sebagai negeri yang konon dikenal dengan keramahtamahannya (entah masih berlaku atau tidak?), senyuman mungkin tak terlalu sulit ditemui. Namun, tentu bukan hal mudah mengetahui apakah senyuman yang terpampang di hadapan kita itu tulus atau dibuat-buat.
hh
Kamis, 17 Juni 2010
Sang Primadona
Cerpen A. Mustofa Bisri
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.
Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.
Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.
Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.
Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.
Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.
Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.
Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.
Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.
Menu Makan Malam
Cerpen Kadek Sonia Piscayanti
Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari dapurnya. Daftar itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali lipat kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari hingga kini menginjak usia 25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu, bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.
Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya ada tiga kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya, pikirannya adalah menu-menu masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah ritual resmi yang secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari dapurnya. Daftar itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali lipat kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari hingga kini menginjak usia 25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu, bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.
Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya ada tiga kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya, pikirannya adalah menu-menu masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah ritual resmi yang secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
Kota Kelamin
Cerpen Mariana Amiruddin
Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.
Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.
Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.
Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.
Selasa, 15 Juni 2010
Tips Tingkatkan Kepercayaan Diri
Untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda silahkan anda melakukan:
1. Selalu Duduklah selalu di barisan depan didalam suatu acara
2. Adakan kontak mata dengan lawan bicara
3. Berjalanlah 25% lebih cepat
4. Berbicaralah terus terang
5. Tersenyumlah lebar-lebar
Anda ingin mencobanya mulai hari ini ? Inginkah Anda melihatlah hasilnya? Silahkan dicoba.
1. Selalu Duduklah selalu di barisan depan didalam suatu acara
2. Adakan kontak mata dengan lawan bicara
3. Berjalanlah 25% lebih cepat
4. Berbicaralah terus terang
5. Tersenyumlah lebar-lebar
Anda ingin mencobanya mulai hari ini ? Inginkah Anda melihatlah hasilnya? Silahkan dicoba.
Label:
kata mutiara,
Nasehat,
pelajaran hidup,
segment,
spiritual
Sabtu, 05 Juni 2010
Akui Saja Kesalahanmu!
Pernahkah pada suatu hari kamu mencoba mengakui kesalahanmu sendiri terhadap kawanmu, istrimu, bahkan kepada anakmu?
Kamu terkadang jujur untuk menjawab,"Belum,aku belum mencobanya". Namun jangan sekali-kali menjawab,"Aku selamanya tidak pernah berlaku salah pada orang lain." Dengan begitu telah menampakkan dirimu sebagai pribadi yang angkuh dan penuh tipu daya.
Sekarang akan kuhadirkan kisah Ibn az-Zubair dengan bibinya, Aisyah r.a.
Ia (Zubaidah) telah melakukan kesalahan kepada bibinya, berbicara dengan kata-kata keras, sebagian kata-katanya seperti batu, atau lebih keras dari itu, kemudian ia menyesal dan mengakui kesalahnya, memperlembut ucapannya dan berlaku rendah hati kepada bibinya, ia menangis di depan Aisyah r.a. hingga Aisyah merasa ridha dan memaafkannya.
Kamu terkadang jujur untuk menjawab,"Belum,aku belum mencobanya". Namun jangan sekali-kali menjawab,"Aku selamanya tidak pernah berlaku salah pada orang lain." Dengan begitu telah menampakkan dirimu sebagai pribadi yang angkuh dan penuh tipu daya.
Sekarang akan kuhadirkan kisah Ibn az-Zubair dengan bibinya, Aisyah r.a.
Ia (Zubaidah) telah melakukan kesalahan kepada bibinya, berbicara dengan kata-kata keras, sebagian kata-katanya seperti batu, atau lebih keras dari itu, kemudian ia menyesal dan mengakui kesalahnya, memperlembut ucapannya dan berlaku rendah hati kepada bibinya, ia menangis di depan Aisyah r.a. hingga Aisyah merasa ridha dan memaafkannya.
Label:
agama,
info,
kata mutiara,
kesabaran,
Nasehat,
pelajaran hidup,
pengetahuan,
segment,
spiritual
Sabtu, 15 Mei 2010
Bagaimana Menjaga Emosi
kehidupan sehari-hari tidak lepas dari krisis yang sifatnya sementara dan problem yang mendadak yang membuat sebagian dari kita tampak tegang dan emosi. Pada umumnya, hal ini mengakibatkan solusi yang tidak baik terhadap problem yang dihadapi. kita sering menyesali keterburuan kita dalam ucapan atau tindakan apa saja, itu terjadi pada saat kita marah besar. Karena itu, penting bagi kita mempelajari keahlian menjaga emosi. Hal ini merupakan perilaku yang bisa dipelajari dan dipraktekkan.
Minggu, 11 April 2010
Makna di Balik Senyuman
Apakah Anda menginginkan ganjaran dan pahala dengan tanpa kerja keras dan repot? Tersenyumlah pada saudara Anda sesama muslim. Nabi SAW. telah bersabda, "Senyumanmu pada wajah saudaramu adalah sedekah". (HR. Tirmidzi dan hadist ini sahih menurut al-Albani)
Betapa banyak sedekah yang kita abaikan sebab wajah yang bengis, bermuka masam, dan murung... Sebagian orang mengira bahwa apabila tersenyum pada orang lain, maka wibawanya berkurang. Apabila bermuka masam dan bengis, maka mereka semakin menghormatinya. Pemahaman dan gambaran seperti ini keliru, karena orang lain tidak menghormati sikap seperti ini, tapi malah mereka menjauhinya dan menghindarinya.
Betapa banyak sedekah yang kita abaikan sebab wajah yang bengis, bermuka masam, dan murung... Sebagian orang mengira bahwa apabila tersenyum pada orang lain, maka wibawanya berkurang. Apabila bermuka masam dan bengis, maka mereka semakin menghormatinya. Pemahaman dan gambaran seperti ini keliru, karena orang lain tidak menghormati sikap seperti ini, tapi malah mereka menjauhinya dan menghindarinya.
Jangan Bersedih atas Kesenangan Dunia
Ada tujuh macam kelezatandi dunia; makanan, minuman, pasangan hidup, pakaian, tempat tinggal, babu-bauan, objek pendengaran, dan pengelihatan. Semuanya tak berati apa-apa, sebagaimana riwayat dari Ali ibn Abu Thalib r.a., beliau berkat pada Ammar ibn Yasir r.a., ia melihatnya bernafas seperti orang yang bersedih, "Wahai Ammar! jika nafasmu karena akhirat,maka perniagaanmu mendapat keberuntungan. Tapi jika nafasmu karena dunia, transaksimu menjadi rugi".
Label:
agama,
info,
kesabaran,
Nasehat,
pelajaran hidup,
pengetahuan,
segment,
spiritual
Menangis Karena Bahagia
Seorang usahawan dan hartawan telah memiliki sejumlah perusahaan di USA. Ada seorang pemuda beragama Islam bekerja di salah satu perusahaan tersebut.
Setiap pengusaha itu lewat di depan sang pemuda, si pemuda selalu tersenyum dan tanda kebahagiaan tampak diraut wajahnya, sedangkan si pengusaha selalu bersedih dan murung.
Lalu pengusaha itu bertanya pada sang pemuda tentang senyumannya yang memancarkan kegembiraan dan kebagaiaan.
Pemuda itu menjawab, "Karena saya seorang muslim."
Pengusaha itu bertanya lagi padanya, "kalau saya masuk Islam, apakah bisa saya temukan kebahagiaan yang kamu rasakan?"
Pemuda tersebut menjawab, "ya"
Maka pemuda muslim tersebut membawa pengusaha ke salah satu Islamic center, lalu ia membaca kalimat syahadat, kemudian seketika itu juga ia meledak dalam uraian tangis yang begitu mengharukan, lalu pengusaha itu ditanya tentang sebab tangisannya, maka ia menjawab, "Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, saya merasakan kebahagian". "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk Allah. Mereka itu dalam kesulitan yang nyata". (Az-Zimar: 22)
Setiap pengusaha itu lewat di depan sang pemuda, si pemuda selalu tersenyum dan tanda kebahagiaan tampak diraut wajahnya, sedangkan si pengusaha selalu bersedih dan murung.
Lalu pengusaha itu bertanya pada sang pemuda tentang senyumannya yang memancarkan kegembiraan dan kebagaiaan.
Pemuda itu menjawab, "Karena saya seorang muslim."
Pengusaha itu bertanya lagi padanya, "kalau saya masuk Islam, apakah bisa saya temukan kebahagiaan yang kamu rasakan?"
Pemuda tersebut menjawab, "ya"
Maka pemuda muslim tersebut membawa pengusaha ke salah satu Islamic center, lalu ia membaca kalimat syahadat, kemudian seketika itu juga ia meledak dalam uraian tangis yang begitu mengharukan, lalu pengusaha itu ditanya tentang sebab tangisannya, maka ia menjawab, "Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, saya merasakan kebahagian". "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk Allah. Mereka itu dalam kesulitan yang nyata". (Az-Zimar: 22)
Label:
agama,
kesabaran,
Nasehat,
pelajaran hidup,
pengetahuan,
segment,
spiritual
Renungkan dan Bersyukurlah
Artinya mengingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan pada Anda, ternyata nikmat tersebut berlimpah mulai dari atas sampai ke bawah kedua telapak kakimu.
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya." (QS. An-Nahl: 18)
Kesehatan badan, keamanan dalam negri,sandang dan pangan, air dan udara, semua kenikmatan dunia ada di depan Anda, sedangkan Anda tidak menyadari. "Dan Ia menyadari untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. Luqman: 20)
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya." (QS. An-Nahl: 18)
Kesehatan badan, keamanan dalam negri,sandang dan pangan, air dan udara, semua kenikmatan dunia ada di depan Anda, sedangkan Anda tidak menyadari. "Dan Ia menyadari untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. Luqman: 20)
Jangan Bersedih Karena Ditimpa Bencana
Orang mukmin tidak perlu cemas dengan penyakit atau dengan maut, jika memang tabiatnya tidak mampu menghadapinya, maka sebaiknya ia bersabar semampunya. Baik dengan alasan mencari pahala dari apa yang ia kerjakan, atau dengan alasan menjelaskan manfaat ridha dengan takdir. Kejadian seperti itu hanyalah sementara saja dan kemudian ia akan hilang.
Bagi orang yang sembuh dari sakitnya yang hanya diderita dalam beberapa saat,yang dulu ia cemaskan,renungkanlahke mana perginya saat-saat yang mencemaskan itu ketika sudah sembuh.
Bagi orang yang sembuh dari sakitnya yang hanya diderita dalam beberapa saat,yang dulu ia cemaskan,renungkanlahke mana perginya saat-saat yang mencemaskan itu ketika sudah sembuh.
Label:
agama,
kesabaran,
Nasehat,
pengetahuan,
spiritual
Sabtu, 10 April 2010
Pahala Orang Yang di Tinggal Mati Anaknya
Diantara musibah yang paling berat menimpa manusia adalah kematian anak sang buah hati. Dalam kondisi seperti ini, ia merasa jiwanya telah di renggut dan hatinya telah dihancurkan.Dengan demikian, orang beriman mesti bersabar. Mengapa harus bersabar? Karena semua yang berasal dari Allah merupakan kebaikan baginya dan anaknya.
Ia tabah, karena ia tahu bahwa anak adalah titipan dari-Nya. Sesungguhnya Allah dalah Pemilik titipan. Ia hanya menjaganya di dunia ini hingga ia serahkan kembali kepada Sang Pemilik.
Ia tegar, karena ia tahu bahwa duka cita dan penyesalan tidak ada gunanya dan tidak akan pernah bisa membuat anaknya kembali kepadanya. Nabi SAW. memberitahukanbahwa orang yang sudah mati akan dia azabdalam kuburnya sebab diratapi.
Ia tabah, karena ia tahu bahwa anak adalah titipan dari-Nya. Sesungguhnya Allah dalah Pemilik titipan. Ia hanya menjaganya di dunia ini hingga ia serahkan kembali kepada Sang Pemilik.
Ia tegar, karena ia tahu bahwa duka cita dan penyesalan tidak ada gunanya dan tidak akan pernah bisa membuat anaknya kembali kepadanya. Nabi SAW. memberitahukanbahwa orang yang sudah mati akan dia azabdalam kuburnya sebab diratapi.
Rabu, 07 April 2010
Serpihan dan Potongan Kata Mutiara
Bagi dunia kamu hanyalah seseorang,
namun bagi seseorang kamu adalah dunianya.
Jangan mengharapkan kebaikan dari seseorang yang tidak mengharapkan kebaikan dari kamu.
Manusia dinilai bukan dari hartanya,
melainkan dari akhlak dan budi pekertinya.
Musuh yang pintar,lebih baik daripada teman yang bodoh.
Orang yang merasa dirinya pali benar adalah orang GOBLOK.
Raihlah cita-cita, sambil bercinta.
Tapi jangan putus cita-cita, karna gagal bercinta.
dan harus siap ditangisi WANITA.
Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama,
bagaimana lagi bila tiada agama...??
Janganlah mau diatur waktu,
tapi waktu yang kita atur.
Penggoda ilmu adalah : "WANITA", "HARTA", "TAHTA".
Menghitung orang-orang gila disuatu negeri lebih sulit,
daripada menghitung orang-orang yang berakal,... tul gak,..??
Bukalah mata, dan tuntutlah ilmu.
Walaupun menuntut ilmu sampai ke negeri orang.
Orang pintar belum tentu melakukan hal yang benar.
Tapi, orang yang benar itu, orang yang telah melakukan hal yang pintar.
Belajarlah bijak dengan melihat kesalahan orang lain.
Ukirlah kebaikan mu diatas pasir, agar mudah hilang.
Dan ukirlah kebaikan orang lain diatas batu, agar sulit hilang.
Ingatlah dua dan lupakan dua.
Ingatlah dua, yaitu: kebaikan orang lain, dan aib diri sendiri.
Lupakan dua, yaitu: aib orang lain, dan kebaikan diri sendiri.
namun bagi seseorang kamu adalah dunianya.
Jangan mengharapkan kebaikan dari seseorang yang tidak mengharapkan kebaikan dari kamu.
Manusia dinilai bukan dari hartanya,
melainkan dari akhlak dan budi pekertinya.
Musuh yang pintar,lebih baik daripada teman yang bodoh.
Orang yang merasa dirinya pali benar adalah orang GOBLOK.
Raihlah cita-cita, sambil bercinta.
Tapi jangan putus cita-cita, karna gagal bercinta.
dan harus siap ditangisi WANITA.
Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama,
bagaimana lagi bila tiada agama...??
Janganlah mau diatur waktu,
tapi waktu yang kita atur.
Penggoda ilmu adalah : "WANITA", "HARTA", "TAHTA".
Menghitung orang-orang gila disuatu negeri lebih sulit,
daripada menghitung orang-orang yang berakal,... tul gak,..??
Bukalah mata, dan tuntutlah ilmu.
Walaupun menuntut ilmu sampai ke negeri orang.
Orang pintar belum tentu melakukan hal yang benar.
Tapi, orang yang benar itu, orang yang telah melakukan hal yang pintar.
Belajarlah bijak dengan melihat kesalahan orang lain.
Ukirlah kebaikan mu diatas pasir, agar mudah hilang.
Dan ukirlah kebaikan orang lain diatas batu, agar sulit hilang.
Ingatlah dua dan lupakan dua.
Ingatlah dua, yaitu: kebaikan orang lain, dan aib diri sendiri.
Lupakan dua, yaitu: aib orang lain, dan kebaikan diri sendiri.
Izinkan Aku Slalu Mengingat-Mu
Dulu...
Saat kesederhanaan aku miliki
Dunia terasa indah
Dan rumahku bagaikan surga
Walaupun makan seadanya
Tapi aku sungguh bahagia
Sekarang...
Semuanya berubah
Saat kesederhanaan aku miliki
Dunia terasa indah
Dan rumahku bagaikan surga
Walaupun makan seadanya
Tapi aku sungguh bahagia
Sekarang...
Semuanya berubah
Senin, 05 April 2010
Kata Mutiara Cinta Untuk Wanita
Carilah seorang pria yang memanggil mu cantik, bukan hot / sexy
Yang menelepon kembali ketika kamu menutup telpon
Yang mau tiduran di bawah bintang dan mendengar detak jantungmu
Atau mau tetap terbangun untuk melihatmu tidur
Tunggulah seorang laki-laki yang mencium dahimu
Yang mau memamerkan dirimu pada dunia ketika kamu sedang keringetan
Yang menggenggam tanganmu di depan teman-temannya
Yang menganggap kamu tetap cantik tanpa riasan
Seseorang yang selalu mengingatkan kamu, betapa besar kepeduliannya padamu
dan betapa beruntungnya dia memilikimu
Seseorang yang berkata pada temannya: dialah orangnya…
Yang menelepon kembali ketika kamu menutup telpon
Yang mau tiduran di bawah bintang dan mendengar detak jantungmu
Atau mau tetap terbangun untuk melihatmu tidur
Tunggulah seorang laki-laki yang mencium dahimu
Yang mau memamerkan dirimu pada dunia ketika kamu sedang keringetan
Yang menggenggam tanganmu di depan teman-temannya
Yang menganggap kamu tetap cantik tanpa riasan
Seseorang yang selalu mengingatkan kamu, betapa besar kepeduliannya padamu
dan betapa beruntungnya dia memilikimu
Seseorang yang berkata pada temannya: dialah orangnya…
Langganan:
Komentar (Atom)